Wayang Punokawan
Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa (raja Jin). Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.
Wayang Punokawan Dalam Versi Cerita Pedalangan
Punakawan adalah tokoh pewayangan Jawa yang diciptakan oleh seorang pujangga Jawa, dan merupakan mitologi masyarakat jawa.
Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.
Selain 4 contoh versi serat yang di atas masih ada versi serat yang lain, bahkan wayang versi India, Bali, Jawa (versi Jawa Timur, versi Sunda, versi Solo, versi Yogya, versi Banyumas dll.) semua berbeda-beda ceritanya. Apalagi kalau dimainkan oleh dalang yang berbeda dengan gaya cerita dan acuan serat yang berbeda pula. Kita musti menghormati dan menerima semua perbedaan dari semua versi serat dan berusaha memahami perbedaannya. Justru ini yang menjadikan makin kaya, tinggi dan luhurnya khasanah budaya wayang kita.
Demikianlah sejarah mengenai dunia wayang. semoga bisa membantu memberikan pencerahan bagi para pembaca, dan wayang juga merupakan sebagai media informasi serta seni hiburan bagi masyarakat yang sekaligus untuk mempererat silaturahmi, dan tentunya tidak kalah penting pula adalah upaya melestarikan yang merupakan aset budaya bangsa warisan leluhur.
Sumber: media seni budaya wayang Indonesia
*** Warisan budaya nasional atau warisan budaya daerah adalah cermin tingginya peradaban bangsa.
*** Melestarikan budaya nasional warisan leluhur sebagai wujud jati diri dan watak bangsa Indonesia.
















.gif)
.gif)
.gif)






























